Klinik Mata JakartaPenyebab kanker mata yang diketahui sejauh ini adalah akibat mutasi gen terhadap jaringan mata, terlebih gen yang mengatur perkembangan sel. Pada keadaan normal, sel bakal membelah diri secara tertata dan berkala untuk mengganti sel yang telah rusak. Untuk mencegah agar sel tidak membelah diri secara liar dan tidak terkontrol, terdapat gen-gen yang mengatur kapan sel terasa dan berhenti membelah diri.

Kanker mata disebabkan oleh perubahan DNA terhadap gen yang mengatur pembelahan sel jaringan mata. Perubahan DNA terhadap gen berikut membuat gen pengatur pembelahan sel tidak berfungsi, agar sel-sel mata membelah diri tanpa terkendali. Akan tetapi, sampai sementara ini penyebab mutasi DNA terhadap gen berikut masih belum diketahui secara pasti.

Seseorang lebih mudah terkena melanoma intraokular jika:

Berkulit putih.
Memiliki warna mata lebih cerah, seperti biru atau hijau, dibandingkan orang dengan warna mata gelap.
Memiliki kelainan atau riwayat kelainan tertentu, seperti punya banyak tahi lalat (dysplastic nevus syndrome) atau bercak hitam terhadap mata (nevus of Ota)
Memiliki keluarga dengan riwayat melanoma intraokular.
Beberapa penelitian menduga adanya aspek lain, seperti paparan cahaya matahari atau lampu ultraviolet, yang juga membuat terjadinya melanoma terhadap kulit. Beberapa type pekerjaan juga dikira mampu menaikkan risiko seseorang terkena melanoma, seperti tukang las, nelayan, petani, atau pekerjaan yang terjalin dengan zat kimia berbahaya.

Khusus untuk retinoblastoma, sampai sementara ini belum diketahui secara pasti hal-hal yang mampu membuat seseorang lebih mudah menderita penyakit tersebut. Sedangkan limfoma intraokular, lebih mudah terjadi terhadap orang yang menderita HIV/AIDS atau merintis penyembuhan imunosupresif setelah cangkok organ.

Baca Juga :

Pengertian Mata Juling

Diagnosis Kanker Mata
Pemeriksaan dan diagnosis terhadap gejala-gejala kanker mata sangat mutlak agar kanker mampu dideteksi sejak dini. Metode diagnosis paling utama untuk mendeteksi kanker mata adalah pengecekan mata. Pemeriksaan mata mampu dilaksanakan dengan pemberian alat, seperti oftalmoskopi dan gonioskopi lensa. Pasien bakal dicek terkait:

Gejala yang dialami, juga riwayat munculnya gejala kanker mata.
Kemampuan penglihatan mata.
Pergerakan bola mata.
Pembuluh darah mata, untuk mengecek pelebaran pembuluh darah terhadap mata.
Vitreous humor, yakni cairan bening seperti jelly di didalam bola mata. Jika terjadi limfoma intraokular, umumnya vitreous humor bakal mengalami pengeruhan.
Limfoma intraokular seringkali berkenaan kedua mata. Akan tetapi, terhadap kasus tertentu mampu juga hanya terjadi terhadap satu mata. Melanoma intraokular mampu diketahui dini hanya melalui pengecekan mata. Agar hasil tes lebih akurat serta mampu diketahui tingkat perkembangan dan penyebaran kanker, pasien mampu merintis pengecekan pendukung seperti:

Pemindaian. Pemindaian seperti USG mata, CT scan, atau MRI berguna untuk memahami lokasi dan ukuran sel kanker. Pemindaian juga mampu dilaksanakan terhadap organ lain, tak sekedar mata, untuk mendeteksi penyebaran kanker ke organ tubuh lainnya, seperti foto Rontgen dada, USG hati, atau PET Scan.
Biopsi. Biopsi dilaksanakan dengan langkah menyita sampel jaringan mata yang dikira mengalami kanker dan dicek di bawah mikroskop. Biopsi jarang dilaksanakan sebagai metode diagnosis, jika jika sangat diperlukan, sebab sulit untuk menyita sampel jaringan mata tanpa mengundang kerusakan.
Tes pungsi lumbal (lumbar puncture). Pungsi lumbal bertujuan untuk mendeteksi apakah kanker limfoma intraokular telah menyebar ke otak atau saraf tulang belakang. Tes ini dilaksanakan dengan langkah menyita cairan serebrospinal dari tempat tulang belakang.