Klinik Mata JakartaRabun dekat atau hipermetropi adalah problem penglihatan jarak dekat. Pada penderita hipermetropi, objek yang jauh keluar jelas, namun objek yang dekat justru keluar tidak sadar atau buram.

Bayi dan anak kecil condong mengalami hipermetropi, namun penglihatannya tidak buram. Kondisi ini tidak harus dikhawatirkan, karena penglihatannya akan normal seiring perkembangan organ mata.

Rabun Dekat

Hipermetropi berlainan bersama dengan presbiopi atau mata tua, meskipun ke dua jenis problem refraksi mata ini membawa dampak penderitanya susah menyaksikan objek yang dekat. Hipermetropi berjalan akibat wujud kornea maupun lensa mata yang tidak normal, tetapi presbiopi disebabkan oleh otot di sekitar lensa yang jadi kaku akibat segi penuaan.

Gejala Hipermetropi
Penderita hipermetropi akan mengalami gejala tersebut ini:

Penglihatan tidak fokus saat menyaksikan objek yang dekat.
Harus menyipitkan mata untuk menyaksikan suatu hal lebih jelas.
Mata menjadi tegang, sakit atau terbakar
Mata penat atau sakit kepala usai menyaksikan terhadap jarak dekat dalam waktu lama, seandainya menulis, membaca atau memakai komputer.
Kapan harus ke dokter
Seseorang yang berisiko tinggi menderita penyakit mata, seandainya glaukoma, direkomendasi untuk menjalani kontrol mata teratur tiap tiap satu atau dua th. sekali sejak umur 40 tahun.

Pemeriksaan mata teratur termasuk direkomendasi terhadap bayi dan anak-anak dan juga orang dewasa yang tidak memiliki masalah terhadap mata. Pemeriksaan dapat dimulai terhadap umur 6 bulan, 3 tahun, dan tiap tiap 1 atau 2 th. sekali sejak masuk umur sekolah.

Baca Juga :

Ini Cara Mencegah Mata Merah

Segera periksakan diri ke dokter mata seandainya gejala hipermetropi hingga mengganggu aktivitas. Pemeriksaan mata harus segera dilaksanakan seandainya penglihatan terganggu secara tiba-tiba.

Penyebab Hipermetropi
Hipermetropi berjalan akibat cahaya yang masuk ke mata tidak terfokus ke tempat yang harusnya (retina), namun terfokus ke belakangnya. Hal ini disebabkan oleh bola mata yang amat pendek, atau wujud kornea maupun lensa mata yang tidak normal.

Terdapat sebagian segi yang dapat tingkatkan risiko seseorang menderita hipermetropi, yaitu:

Memiliki orang tua yang menderita hipermetropi.
Berusia di atas 40 tahun.
Menderita diabetes, kanker di sekitar mata, problem terhadap pembuluh darah di retina, atau sindrom mata kecil (micropthalmia).
Diagnosis Hipermetropi
Dokter dapat memilih seseorang menderita hipermetropi melalui tes tajam penglihatan. Dalam tes ketajaman penglihatan, seseorang akan diminta membaca huruf yang ukurannya bervariasi, berasal dari jarak yang berbeda-beda.

Selain digunakan untuk mendeteksi hipermetropi, tes ketajaman penglihatan termasuk dapat memberitahu dokter apakah pasien menderita miopi, mata silinder, atau presbiopi.

Jika hasil tes ketajaman penglihatan membuktikan pasien menderita rabun dekat, dokter akan mobilisasi kontrol retinoskopi untuk menyaksikan retina mata. Dokter akan memakai tetes mata tertentu untuk melebarkan pupil pasien, agar bagian dalam mata lebih mudah diperiksa.