Klinik Mata Jakarta – Low vision merupakan keterbatasan daya pandang yang bisa dialami oleh seseorang, namun tidak masuk ke ranah kebutaan. Orang yang menderita low vision biasanya harus memicingkan atau mengecilkan mata, supaya benda yang hendak dilihatnya terlihat jelas tanpa menggunakan kacamata.

Low vision bisa disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya kekurangan vitamin A, katarak, glaukoma, atau efek samping penggunaan obat tertentu. Orang-orang yang menderita low vision biasanya akan mengalami beberapa gejala, seperti sulit berada sendirian di tempat baru dan sulit menatap lurus.

Gejala low vision ini harus diwaspadai betul bahkan semenjak bayi baru lahir, sebab kalau telat maka risikonya makin parah. Bayi yang rentan terhadap low vision adalah bayi yang terlahir dalam kondisi mata katarak. Sementara untuk orang dewasa, biasanya diawali dengan gejala pandangan seperti berkabut dan berasap. Mengindikasi lovi pada bayi bisa dilihat dari apakah bayi fokus atau tidak.

Bekal untuk Anak-anak Low Vision

Anak-anak dengan gangguan low vision bisa diberikan pengajaran ekstra, seperti berbagai hal terkait anggota tubuhnya. Anak-anak pada umumnya terbilang mudah untuk diajari perihal anggota tubuh, lain dengan penderita lovi. Tapi, anak lovi juga harus mengenal anggota tubuhnya supaya bisa mandiri.

Pembelajaran kedua yang harus dipraktikkan oleh anak-anak penderita low vision adalah memperkenalkan anak pada benda-benda di sekitarnya. Apapun benda yang setiap hari digunakan oleh anak semestinya diberitahukan fungsinya. Seperti, guna rak sepatu adalah untuk menyimpan sepatu.

Baca juga : Penyebab Mata Sensitif Terhadap Cahaya Saat Berkendara di Malam Hari

Ketiga, anak-anak dengan kelainan low vision juga harus diajarkan tentang warna. Pengenalan terhadap warna ini fungsinya, supaya melatih penglihatan anak untuk tetap awas meskipun memiliki keterbatasan. Tidak ada sekat antara anak normal dan anak low vision jika bisa sama-sama membedakan warna.

Anak yang menderita low vision juga wajib diperkenalkan kepada lingkungan rumah juga sekolah. Pengenalan ini ditujukan untuk membuat anak mengerti tentang lingkungan sosialnya, di samping diri sendiri dan keluarga. Dengan mengenali lingkungan, anak otomatis bisa berbaur dengan masyarakat lainnya, baik di sekolah atau di rumah. Tujuannya agar anak tidak merasa terasingkan secara sosial.

Support untuk Anak Penderita Low Vision

Sampai dengan sekarang, gangguan low vision pada beberapa orang tidak bisa ditangani dengan cara operatif. Artinya, penderita low vision hanya bisa memanfaatkan alat bantu, seperti teknologi komputer, ponsel bicara, dan sebagainya. Program rehabilitasi untuk keadaan low vision ini sangat dibutuhkan.

Memiliki lingkungan yang memberikan support positif juga sangat penting sebab dampaknya ke mental anak. Keluarga mengambil porsi penting dalam hal ini, artinya dari dalam keluarga sendiri pun tidak boleh mengasingkan anak dengan derita lovi. Kalau dari lingkungan keluarganya sudah mendapatkan support dengan baik, otomatis ke luar pun anak akan lebih percaya diri untuk bergaul dan bersosialisasi.

Faktanya tidak ada satu pun dalam kehidupan ini yang sempurna, terkait berat dan ringannya ketidaksempurnaan itu bergantung pada keimanan seseorang. Artinya, berdamai dengan kenyataan adalah poin paling penting yang harus disadari oleh setiap orang tua dengan anak penderita lovi.

Orang tua yang memiliki pemikiran tidak sempit, seperti tidak mengindahkan omongan orang lain terkait anaknya tentu akan memberikan efek lebih bahagia dalam rumah. Lain hal jika orang tua sendiri merasa enggan menerima kenyataan, maka anak pun akan hilang rasa percaya diri bahkan menarik diri dari lingkungan sosial. Padahal, segala sesuatu yang bersumber dari Tuhan sudah pasti baik adanya.